Jumat, 04 Maret 2011

benda


Menemaniku melintasi pekatnya malam.  Dalam pijar, unggahnya seutas cerita. Jadikannya baris baris cahaya yang terangkai  berdesakan. Hingga membuatku bisa melihat sesuatu yang indah di kala petang. Aku tak lagi takut gelap. Bawaku memutar roda pelangi jingga yang kau jadikan segumpal asap. Tentang untuk kesekalinya aku menemuimu. Hanya denganmu. Lilin.
Tangkai yang masih ku genggam, ku kibaskan menompang angin. Dalam hamparan lahan yang luas, dan biji bunga matahari yang bertebaran. Mengepungku dengan serumpun bunga yang berjajar rapi. Saat bayanganku jatuh tepat di bawahku, tepat tengah hari. Waktu membawaku melihatmu. Dengan seruling yang kau coba lantunkan menjadi sebuah nada. Dandelion.
Kubuka tirai jendelaku. Memandang jauh ke angkasa. Hanya sebuah bintang yang tidak cukup terang menyelinap dalam terpaan kabut. Perlahan angin malam menyapu langit, bersih kemudian. Desiran angin yang mencoba keluar dari sekelompok semak, terbitkannya bunyi jangkrik dengan ketukan yang berlombaan. Nampak sebuah benda terang di atas sana, dan kumulai menghayalkanmu. Bulan.
Kulukiskan senyumanmu. Dengan kuas ku torehkan raut wajahmu diseberang sana. Gores arsir yang kubaca menjadi sebuah bentuk yang indah. Saatku impikanmu, membantuku meniti waktu yang kau ungkapkan menjadi bingkai cerita. Menjadi seorang rupawan, mengaitkan tangan si sela jemariku. Mengusap lukaku ketika aku terjatuh. Membelai rambutku di nuansa lembutnya senja di perbatasan laut. Mengesankan. Malam
Kata demi kata yang kurajut. Menjadi serangkai alenia yang tertuang di secarik kertas, tentangmu. Bagaimana saat kau berikanku sebalok coklat di hari penuh kasih. Bagaimana saat kau tersenyum melihatku melangkahkan kaki mendekatimu. Bagaimana saat kita bersepeda melintasi padang rumput, kita saling berkebutan hingga aku jatuh tersungkur dan kau robek kain bajumu untuk balut lukaku. Pena
Tangkai kuas dengan lumeran warna di pangkalnya. Memoleskan bias warna di bidang kanvas. Sebuah peran tentang apa yang ku pikirkan. Hanya tumpahan warna yang memenuhi  setiap sudutnya. Imajinasi tentang sebuah pengharapan, tentang ambisi, dan tentang keinginan.  Inilah aku. Yang tersenyum memandang kejora, tentang rahasia bintang. Karena kau yang mengarungi bola mataku. Karena itulah yang ku tahu. Cat
Buliran halus yang membasuh pipiku. Ku rentangkan kedua tanganku. Ku kaitkan kancing bajuku, dingin ini menembus permukaan kulit. Ditempat ini kau habiskan petang bersamaku. Melihat nyiur yang melambai. Memandang gulungan ombak yang pecah karena karang. Menyaksikan beberapa kepompong yang berburu menyembunyikan diri dalam desir pasir. Menatap indahnya  mentari yang tenggelam dalam air laut. Disinilah aku mengenalmu. Pantai
Lembaran metal tipis diafragma pendarkan sinar ke lensa. Beberapa lembar foto masih terangkum jelas. Foto ketika kau berjalan di bantaran sungai dengan headphone yang menempel di kelopak telingamu. Foto close up saat kau berlarian dengan gadis kecil, sangat bahagia. Foto saat kau sibuk membaca novel di sore hari. Foto saat kau meniup lilin di hari bahagiamu.  Aku masih menyimpannya. Untuk melihatmu tersenyum. Kamera
Lilin, dandelion, bulan, malam, pena, cat, pantai, dan kamera. Tentang sesuatu yang kusuka, karena ia telah merubahnya, kibaskan menjadi sesuatu yang indah. Dan kini semua berbeda  (^^,)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar